Singa Garut, Dakwah Budaya, dan Warisan Perjuangan yang Abadi
Di balik nama Al Mashduqi yang kini dikenal masyarakat sebagai sebuah nama lembaga pendidikan Islam yang unggul dan favorit di Kabupaten Garut, terdapat sosok ulama yang jejak perjuangannya terus hidup melintasi zaman. Nama itu bukan sekedar identitas dan nama sebuah yayasan atau sekolah, melainkan nama besar dari seorang ulama, pendidik, pendakwah, sekaligus pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk menanamkan ilmu, akhlak, kepemimpinan dan jiwa keberanian kepada masyarakat. Beliau adalah KH. Mashduqi, yang pada masanya lebih akrab disapa Aki Idu atau Ajengan Idu
Akar Keluarga yang Melahirkan Seorang Ulama
(Silsilah, Latar Belakang, dan Akar Keilmuan)
Dituturkan oleh Assoc. Prof. Dr. KH. Jujun Junaedi, M.Ag. seorang Da’i Ternama yang juga berprofesi sebagai Dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, serta Pendiri Pondok Pesantren Al Jauhari Garut pada hari Kamis, tanggal 18 Juni 2026, beliau adalah Cucu dari adik kandung KH. Mashduqi yang bernama Nenek Saodah. “Bahwa KH. Mashduqi atau dikenal dengan sebutan Aki Idu lahir di Kampung Ragadieum Desa Cinta Kecamatan Karangtengah (dulu masuk Kecamatan Sukawening, red.) Kabupaten Garut, tumbuh dari lingkaran keluarga ulama yang menjadi pilar religiusitas di wilayah Garut Timur. Beliau merupakan putra dari Eyang H. Rusydi. Nama Aki Idu sendiri masyhur di Garut, beliau dikenal luas sebagai “Singa Garut” karena kedalaman ilmu agama, ketegasan karakter, serta pengaruhnya yang besar di tengah masyarakat pada zamannya. Kampung Ragadiem, yang menjadi tempat asal Eyang H. Rusydi, secara historis merupakan salah satu pusat episentrum lahirnya para ulama besar di tanah Garut. Lingkungan yang sarat akan tradisi literasi Islam inilah yang menempa karakter dan visi keumatan KH. Mashduqi sejak dini. KH.Mashduqi yang merupakan anak sulung dari Eyang H. Rusydi, tumbuh ditengah-tengah keluarga besar yang terdiri dari tujuh bersaudara. Diantara saudara-saudaranya terdapat nama Nenek Eja, Aki Encur, Nenek Saodah, dan terakhir anak bungsunya bernama KH. Jauhar Maknun atau dikenal dengan panggilan Aki Jauhar. Nama terakhir kemudian dikenal sebagai asal-usul dari nama Pondok Pesantren Al-Jauhari Garut, yang berlokasi di Kampung Sangojar Kecamatan Karangtengah Kabupaten Garut, berjarak 3 km dari Kampung Ragadieum, saat ini tumbuh menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di wilayah Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut. Hubungan kekerabatan adik dan kakak tersebut, menunjukkan bahwa tradisi keilmuan telah mengakar kuat dalam keluarga besar KH. Mashduqi.
Dalam perjalanan hidupnya, KH. Mashduqi menikah dengan Rd. Hj. Euis Qona’ah, seorang perempuan religius yang berasal dari Kampung Pasawahan, Desa Pananjung Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, putri dari pasangan Amah Siti Djuhriyah dan Abah Haji Yusuf, serta memiliki 5 (lima) orang anak yaitu H. Ahay Sadikin, S.H., H. Apid Masduki, S.H., Drs. H. Dede Satibi. Hj. Romlah dan Hj. Ade Rafi’ah.
Dari Pernikahan ini tidak hanya menyatukan dua keluarga, tetapi juga memperkuat pilar perjuangan dakwah beliau, dan kemudian lahir generasi penerus yang melanjutkan perjuangan beliau, baik melalui jalur pendidikan, pemerintahan, maupun pengabdian kepada masyarakat. Salah satu putra beliau yang dikenal luas adalah Drs. H. Dede Satibi, yang kelak mengemban amanah sebagai Bupati Garut ke-22 sekaligus menjadi pendiri Yayasan Al Masduqiyyah Garut bersama keluarga.
Karakter, Kedalaman Ilmu, dan Prinsip Moderasi
Sebagai seorang ulama, KH. Mashduqi digambarkan sebagai sosok yang memiliki wibawa tinggi, tegas dalam prinsip, namun penuh kasih sayang. Dalam bidang keilmuan islam, beliau menguasai seluruh lini (fan) keilmuan Islam secara komprehensif, mulai dari ilmu Tauhid (teologi), ilmu Alat (Nahwu dan Shorof untuk tata bahasa Arab), dan lain sebagainya.
Prinsip hidup yang selalu dipegang teguh oleh KH. Mashduqi adalah:
“Sholihun li kulli zaman wa makan” (Islam itu selalu relevan dan sesuai untuk setiap perkembangan zaman dan tempat).
Berlandaskan prinsip tersebut, KH. Mashduqi tampil sebagai ulama yang moderat. Beliau tidak menutup diri dari perkembangan eksternal, melainkan aktif berinteraksi dengan berbagai organisasi, lembaga, dan kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan visi dalam menegakkan syiar Islam dan memajukan bangsa. Cita-cita terbesar yang selalu beliau gaungkan kepada keluarga dan pengikutnya adalah sebuah pesan sederhana namun mendalam: “Jangan pernah berhenti mengaji dan belajar.”
Episentrum Dakwah dan Strategi Melawan Penjajahan
Garis waktu perjuangan KH. Mashduqi bergerak dinamis seiring dengan pergolakan politik masa penjajahan Belanda. Jalur dakwah beliau membentang dari Kampung Ragadiem hingga ke Kampung Sangojar.
Karena sifatnya yang sangat vokal dalam menyuarakan kebenaran dan menentang penindasan kolonial, KH. Mashduqi menjadi target incaran operasi penangkapan oleh pihak militer Belanda. Guna menjaga keselamatan umat sekaligus memastikan api dakwah tidak padam, beliau harus menerapkan strategi gerilya—berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari kejaran tentara penjajah. Kendati hidup di bawah intimidasi, ancaman, dan pengawasan ketat intelijen kolonial, KH. Mashduqi menunjukkan keberanian luar biasa dan memiliki sikap pantang menyerah.
Dakwah yang Membumi Bersama Masyarakat
Bagi KH. Mashduqi, dakwah bukan sekadar menyampaikan ceramah dari mimbar. Dakwah adalah menghadirkan Islam ke tengah kehidupan masyarakat dengan cara yang dapat diterima oleh semua kalangan.
Beliau meyakini bahwa membumikan ajaran Islam di tanah Sunda akan lebih efektif jika menyentuh rasa dan estetika lokal. Oleh karena itu, beliau kerap menggubah syair-syair teologis ke dalam bentuk Purwakanti (sastra vokal tradisional Sunda).
Karena itu, beliau memilih pendekatan yang damai dan penuh kearifan. Selain mengajarkan ilmu-ilmu dasar seperti tauhid, nahwu, dan sharaf, beliau juga menggunakan media seni sebagai sarana pendidikan. Syair-syair keagamaan disusun dalam bentuk pupuh sehingga lebih mudah dihafal dan dipahami masyarakat. Salah satu karya monumental beliau yang hingga saat ini masih dirawat, dihafalkan, dan dilestarikan yang masih diwariskan hingga kini adalah Nadzom ‘Aqoid Iman, yang tetap dipelajari sampai saat ini di lingkungan Pondok Pesantren Al-Jauhari sebagai bagian dari tradisi keilmuan yang beliau tinggalkan, melalui bait-bait yang dilagukan ini, masyarakat awam dan anak-anak dapat dengan mudah memahami 50 sifat wajib, mustahil, dan wenang bagi Allah serta para Rasul :
Aqoidna Iman eta
50 enggeus nyata
Wajib nyaho nu sanyata
Hartikeun nu leuwih tata
Sifat 20 pasti
Wajib na tetep di Gusti
Nu mohalna geus maranti
20 enggeus masing harti
Nu wenang di Gusti Hiji
Jumlah Opat Puluh Hiji
Lalagukeun ulah jangji
Kudu ikhlas bari muji
Di Para Rosul mu faqot
Wajibna teh sifat opat
Nu mohal na aya opat
Nu wenangna hiji sifat
Jumlah 50 sifat
Sakabeh kudu Ma’rifat
Nalar na teh masing rapat
Sing bisa dibawa lumpat
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa KH. Mashduqi tidak memandang seni sebagai sesuatu yang terpisah dari agama. Sebaliknya, beliau menjadikannya sebagai jembatan untuk menanamkan akidah, membentuk akhlak, dan mendekatkan masyarakat kepada ajaran Islam.
Tradisi dakwah estetis yang menitikberatkan keikhlasan dan pujian kepada Allah ini kelak diteruskan secara turun-temurun oleh saudaranya, Aki Jauhar, serta generasi penerus pesantren.
Riwayat Akhir Hayat dan Kesaksian Heroik
Kisah wafatnya KH. Mashduqi dicatat sebagai lembaran sejarah yang heroik sekaligus emosional bagi masyarakat Garut. Karena posisinya yang konsisten memosisikan diri sebagai musuh kolonial, maka Belanda melancarkan operasi khusus untuk melumpuhkannya. Dalam ingatan kolektif keluarga dan masyarakat, KH. Mashduqi dikenal memiliki karomah keteguhan fisik saat menghadapi serangan senjata api. Hal ini memaksa pihak musuh menggunakan strategi khusus dan peluru tertentu guna menciderai beliau. KH. Mashduqi sempat mendapatkan perawatan intensif akibat luka tembak tersebut, hingga akhirnya qodarullah beliau berpulang ke Sang Khalik sebagai seorang syahid. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam, terlebih saat itu beliau meninggalkan putra-putrinya yang masih sangat kecil.
Jenazah beliau mulanya dikebumikan di Kampung Sangojar. Berdasarkan kesaksian masyarakat pada masa itu, terdapat fenomena munculnya cahaya terang yang memancar dan menerangi area pemakaman beliau. Di kemudian hari, makam KH. Mashduqi dipindahkan ke kompleks makam keluarga besar di Makam Besar Pasawahan, Kp. Pasawahan, Kelurahan Pananjung, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut.
Warisan Abadi dan Transformasi Institusional Al Mashduqi
Perjalanan hidup seorang ulama tidak berakhir ketika ia wafat. Nilai-nilai yang ditanamkannya akan terus hidup selama masih ada orang yang mengamalkannya.
Meskipun KH. Mashduqi telah tiada, api perjuangannya tidak pernah padam. Salah satu putranya yang masih kecil saat beliau wafat, Drs. H. Dede Satibi, tumbuh besar mewarisi kepemimpinan dan keteladanan sang ayah. Drs. H. Dede Satibi (lahir 16 Agustus 1943 – wafat 17 Februari 2018) berhasil mengabdikan diri kepada masyarakat luas dan puncaknya dipercaya mengemban amanah sebagai Bupati Garut ke-22 (periode 1999–2004).
Untuk menginstitusikan nilai-nilai dakwah, pendidikan, dan sosial yang diwariskan oleh KH. Mashduqi, Drs. H. Dede Satibi bersama keluarga besar mendirikan wadah formal pada tanggal 29 Mei 2001 dengan nama Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al Masduki.
Seiring perkembangan zaman dan meluasnya cakupan khidmat yayasan, pada tanggal 15 September 2011, dilakukan penataan administrasi kelembagaan total berdasarkan UU No. 28 Tahun 2004. Nama yayasan bertransformasi menjadi Yayasan Al Masduqiyyah Garut. Ruang lingkup yayasan dikembangkan agar tidak hanya mengurusi pendidikan formal, melainkan bergerak masif di bidang sosial, kemanusiaan, dan keagamaan.
Hingga saat ini, Yayasan Al Masduqiyyah Garut sukses menaungi berbagai lembaga pendidikan dan ekonomi yang menjadi rujukan di Kabupaten Garut, antara lain:
- Majelis Ta’lim & Madrasah Diniyah Al Mashduqiyyah (telah aktif merawat umat sejak sebelum tahun 1960).
- TK Islam Terpadu Al Mashduqi (Berdiri tahun 2001).
- Sekolah Luar Biasa (SLB) Al Mashduqi (Berdiri tahun 2005 sebagai wujud kepedulian terhadap inklusivitas pendidikan).
- SMP Islam Terpadu Al Mashduqi Boarding School (Berdiri tahun 2007).
- BMT Al Mashduqi (Berdiri tahun 2017 untuk pemberdayaan ekonomi syariah umat).
- SD Islam Terpadu Al Mashduqi (Berdiri tahun 2018).
- Madrasah Aliyah Unggulan Al Mashduqi (Berdiri tahun 2020).
Penutup / Refleksi Generasi Penerus
Bagi keturunan, santri, dan masyarakat Garut, menyusun kembali biografi KH. Mashduqi bukan sekadar romantisasi sejarah masa lalu. Ini adalah sebuah kebanggaan sekaligus pembuktian bahwa fondasi peradaban Islam di Kabupaten Garut dibangun oleh darah, air mata, kedalaman ilmu, dan ketulusan para leluhur ulama.
Begitulah warisan luhur dari sosok ulama yang bernama KH. Mashduqi, keteladanan, keberanian, keluasan ilmu, serta kecintaannya kepada pendidikan terus mengalir melalui keluarga, murid, dan lembaga-lembaga yang berdiri atas semangat perjuangannya.
Hingga hari ini, nama Al Mashduqi bukan hanya dikenang sebagai nama seorang ulama, tetapi juga menjadi simbol perjuangan pendidikan Islam yang terus berkembang di Kabupaten Garut. Dari majelis taklim sederhana hingga lembaga pendidikan yang menaungi ribuan peserta didik, jejak perjuangan beliau masih terasa, mengingatkan bahwa ilmu yang diajarkan dengan keikhlasan akan terus hidup melampaui usia manus